Ketika saya mengajar perkalian, dengan semangat yang tinggi saya berusaha agar anak-anak bisa menyelesaikan soal perkalian sesuai dengan cara seperti yang saya lakukan. sebenarnya ini sih namanya egois… karena maunya guru, bukan bagaimana siswa mampu belajar dengan caranya sendiri. tetapi dalam hati saya berpikir, kesalahan yang dilakukan anak dalam mengalikan bilangan dikarenakan anak tidak bisa melakukan perkalian dasar dengan tepat dan benar. Pada perkalian dasar sebenarnya anak sudah paham terhadap konsep perkalian, tetapi ternyata anak-anak tidak ingat diluar kepala perkalian dasar, dan kecenderungannya mereka memakai bantuan alat misalnya dengan jari. Tetapi ketika saya memberikan soal perkalian untuk mengukur kemampuan siswa, apakah materi perkalian itu sudah bermakna atau dipahami anak. saya terkejut melihat seorang siswa yang dari tadi memperhatikan jam dinding. Apa ya yang terjadi pikir saya dalam hati?….
Kemudian saya dekati anak tersebut yang bernama Rizal kelas 4A SD Bani Hasyim Bertaraf Internasional. Mas apa kamu sudah selesai mengerjakan tes?” tanyaku. sudah pak, sambil menunjukkan pekerjaannya. “jawab Rizal”. Hebat kamu mas pujiku, karena semua jawabannya benar. Tetapi kenapa kamu dari tadi melihat jam dinding? “tanyaku”. Oh itu pak saya gunakan jam dinding untuk menghitunya, karena saya tidak hafal perkalian dasar jawabnya lugu, sambil tersenyum. terus siapa yang ngajarin kamu gunakan jam? tanyaku lagi. tidak ada yang ngajarin, aku gunakan sendiri, “jawabnya mantab”. hebat kamu mas “pujiku lagi, sambil penasaran” gimana caranya “tanyaku” gi ni lho pak caranya kalau misalnya 4 x 7 , nah kita lihat bilangan 4 pada jam kemudian bilangan pada jam kita tandai dengan 1, 2, … (menyatakan puluhan) kemudian 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20 (10), 21 (1), 22 (2), 23 (3), 24 (4), 25 (5), 26 (6), 27 (7), 28 (8) jadi jawabnya 28, katanya dengan cepat menjelaskan, tapi saya berpikir apa benar ya, kok dia cukup lihai menghitungnya tanpa menyentuh dan memberi tanda pada jama. saya waktu dijelaskan juga belum paham. karena ia asyik menjelaskan dan sambil melihat jam. kemudi saya menggambar jam dan saya suruh nerangkan. oh ternya begitu. …
Hal semacam ini bagi anak memang unik, dan ia berimajinasi untuk mendapatkan cara yang dianggapnya mudah, padahal menurut saya itu sulit. tapi itulah keunikan anak. Akhirnya saya tertarik untuk mempelajarinya dan belajar dari murid saya bisa ndak untuk dikembangkan dalam konsep metematika. sungguh menarik ya…. semoga siswa saya nantinya menjadi guru yang baik bagi saya… makanya guru jangan selalu menganggap siswanya tidak bisa, tetapi seharusnya guru selalu belajar pada siswanya…. oke….. sampai ketemu untuk konsep perkalian dengan jam. saya tak belajar dulu ya…..
6 responses so far ↓
apiqquantum // March 6, 2008 at 9:51 pm
Kreatif benar itu anak, berhitung pakai jam.
Lebih kreatif lagi gurunya - bersedia open minded.
Goodluck
I love math
Novia Ganefi // May 2, 2008 at 11:14 pm
Wah, menarik juga. saya pengen belajar. Gimana caranya ya!! dari tulisan diatas saya putar puter coba, eh nggak ngerti-ngerti. kalo boleh kasih tau caranya donk. Makasih
maksus // June 4, 2008 at 1:37 pm
wah hebat tapi aq blm mengerti dari mana kita berhenti pd angka 28(8) apa krn didepan angka 7? aq coba dg 4×5 berarti harus berhenti diangka enam krn didepan angka 5 ga bs tuh coba terangin yg detail metode kamu ! kl itu metode benar kamu sungguh sangat berjasa dlm dunia pendidikan.
threeB // July 29, 2008 at 2:10 pm
sangat kreati..tapi tetap aja aku kurang paham.bisa dijelasin secara detail ga?
kemal // August 16, 2008 at 12:28 pm
hebat…hebat…kecil2 udah jago banget, gimana kalo dah besar???moga2 nanti kemal juga kaya mas rizal ya…..
tapi…mama kemal masih bingung nih??!!!jelasin lagi dong.
ghostyoen // September 25, 2008 at 8:02 pm
Media - media buat pembelajaran yg kmrn aq bwt da yg lanjtin g pak?
Leave a Comment