Ari Dwi Haryono

Entries categorized as ‘belajar’

Belajar dari Permasalahan

March 16, 2008 · Leave a Comment

 

Anak-anak mulai memecahkan masalah dengan “percobaan dan kesalahan” mulai sejak berumur beberapa bulan. Kegiatan mengajar, seperti mencari jumlah dari 48 +96, kadang-kadang disebut masalah. Latihan berhitung bukan meerupakan masalah. Suatu masalah terjadi ketika seseorang menginginkan untuk mencapai suatu tujuan, tapi tidak dapat segera mencapai tujuan tersebut. Pemecahan masalah kemudian menjadi proses untuk mencapai tujuan tersebut dan mencapai tujuan tersebut. Setiap tindakan pada pemecahan masalah menggunakan suatu proses. Fokus dasar dalam mengembangkan pemecah masalah harus mengajarkan pada proses, dan bukan untuk mencari solusinya (yang hanya merupakan hasil akhir dari proses pemecahan masalah). Keterampilan berhitung yang siswa kembangkan selama di sekolah dasar adalah alat sederhana yang dapat digunakan dalam proses pemecahan masalah. Karena keterampilan adalah pengenalan terbaik saat digunakan dalam konteks pemecahan masalah. Motivasi untuk belajar bagaimana menghitung harus dimulai dari konteks masalah. Aplikasi dari keterampilan berhitung, khususnya sebagai alat untuk pemecahan masalah, harus kembali menjadi fokus utama dalam belajar selama pengembangan keterampilan berhitung. Jika seorang anak menjadi seorang yang ahli dalam berhitung, tapi tidak dapat menggunakan ketrampian yaitu untuk memecahkan masalah, maka anak tersebut hanya mempela1ari sedikit dari nilai praktik. Dalam hal lainnya, jika seorang anak mempunyai variasi yang banyak dalam strategi untuk memecahkan masalah, tapi mengalami kesulitan/lemah dalam berhitung, maka anak tersebut dapat mengatasi kekurangan tersebut dengan menggunakan kalkulator atau program mikrokomputer. (more…)

Categories: belajar · matematika · problem solving · sekolah dasar
Tagged: , , , , ,

Apa bedanya Guru dengan Siswa?

February 19, 2008 · 3 Comments

Anak-anakku sayang rajinlah belajar, “kata seorang guru”, dengan lemah lembut. Ya bu/pak “jawab siswa”, dengan semangat. Guru menyuruh siswa belajar, tetapi apakah gurunya juga mau belajar?… Inilah kadangkala yang harus dicermati oleh semua guru. Karena simbolnya guru itu digugu lan ditiru. Maka hendaknyalah sadar bahwa mencari ilmu itu merupakan kewajiban setiap manusia. sesuai sabda Rasul “Tuntutlah Ilmu Walaupun Sampai ke negeri Cina”. tetapi ealah gurupun juga manusia, ketika akan diadakan pelatihan menulis artikel… wajahnya bak disambar petir menjadi merah padam dan rambut naik semua mengerikan …. hi..hi.. takut… Wah sekarang diganti ajalah siapa yang mau belajar wordpress silakan mendaftar? eh … ternyata juga ada yang tidak ikut, dengan alasan bermacam-macam… tetapi juga ada yang semangat ikut lho… oh ya jangan ge er dulu ternyata ada yang ikut sambel ngomel, pelatihan lagi… tapi gak ikut nanti dimarahi … hi lucu guru kok takut dimarahi…. he… he… Nah mumpung latihan bikin wordpress…, ayo semangat asyik kok pasti nanti ketagihan.. karena salah satunya dengan belajar wordpress pengetahuan kita pasti akan meningkat. Oke jangan pandai nyuruh siswa. sekarang buktikan bahwa guru juga belajar setiap saat

Categories: belajar · guru · siswa · wordpress
Tagged: , , ,

Keluarga, Bermain dan Belajar

February 18, 2008 · 1 Comment

        Bermain sebagai kegiatan yang dilakukan berulang-ulang demi kesenangan (piaget. 1951). Menurut Hughes (1999) dalam Andang Ismail (2006) bermain merupakan hal yang berbeda dengan belajar dan bekerja. Suatu kegiatan yang disebut bermain harus ada lima unsur di dalamnya yaitu, (1) mempunyai tujuan, yaitu permainan itu sendiri untuk mendapat kepuasan, (2) memilih dengan bebas dan atas kehendak sendiri, tidak ada yang menyuruh maupun memaksa, (3) menyenangkan dan dapat menikmati, (4) mengkhayal untuk membayangkan daya imajinasi dan kreativitas, (5) melakukan secara aktif dan sadar. (more…)

Categories: belajar · bermain · keluarga · pendidikan
Tagged: , , , ,

Tips belajar

January 30, 2008 · Leave a Comment

Kecenderungan orang tua mengatakan bahwa anaknya tidak pernah belajar. Padahal kalau kita cermati anak-anak kita selalu belajar baik ia bermain, melihat, mendengar, atau menggunakan panca indera lainnya. Hal ini dikarenakan persepsi orang tua bahwa anak belajar jika mendapat pertanyaan dari orang tua/guru les, menjawab/mengerjakan latihan soal atau bahkan menghafal materi-materi soal yang akan dikeluarkan pada waktu ulangan atau ujian. Paradigma ini sangat menyiksa anak-anak kita kalau ini dibiarkan terus menerus maka anak-anak kita akan menjadi generasi idiot yang tidak ketara. Nah supaya itu tidak terjadi bagaimana cara yang efektif untuk memberikan pengertian bahwa belajara itu asyik, dan menyengkan berikut tips belajar yang bermakna dan penuh arti bagi anak-anak kita:

1. Jika ia sedang bermain ajak anak untuk berimajinasi dan mengembangkan intuisinya melalui pertanyaan atau pendapat yang dikemukakannya

2. Ajak anak untuk menikmati kesenangannya dengan bercerita dan menjelaskan model kesenangannya tersebut, kemudian tanggapi, beri pujian dan gali pengetahuannya melalui metode bertanya dan jawab pertanyaan yang diberikan atau jelaskan dan bimbing serta arahkan manfaat dan konsekwensinya.

3. Sediakan leterasi berbagai buku yang dipilih anak untuk dibaca, kemudian himbaulah anak untuk menceritakan kembali baik secara lisan maupun tertulis. hal ini untuk melatih pemahaman anak.

4. Biasakan anak untuk selalu beraktivitas, baik ia membaca, menulis, membuat karya, menggunting, dan sebagainya

5. Ajak anak selalu berkomunikasi dengan anggota keluarga, hal ini untuk menumbuhkan keberanian dalam mengemukakan pendapat dan ide yang kratif

6. Jika anak mengerjakan tugas biarkan dia secara kreatif memecahkan masalahnya, kemudian tanya bagaimana caranya mengerjakan. setelah itu bimbing jika pekerjaannya salah, tetapi berilah kesempatan ia untuk berargumen dengan jawabannya. kalau memang mendekati benar beri arahan untuk menjawab dengan tepat.

7. ikuti terus perkembangan cara belajar anak dengan teratur dan jangan mematikan motivasi belajarnya

8. Jangan arahkan cara belajar anak, biarkan ia mengikuti cara belajarnya sendiri sesuai dengan minatnya.

9. Ketika ia melihat TV ajak anak untuk mengkritisinya baik dari segi akhlaq, keilmuwan atau dampak yang lain.

Semoga cara di atas dapat bermanfaat untuk mewujudkan masa depan bangsa. Amin

Categories: anak · belajar · cara belajar · orang tua · tips belajar
Tagged: , , , ,