Ketika akan sertifikasi, guru berusaha untuk membuat RPP dengan sebaik-baiknya, tetapi kenyataan di lapangan banyak dijunmpai RPP guru kurang dapat dibaca atau sulit dilaksankan oleh pembaca terutama guru lain. Hal ini menunjukkan selama ini guru hanya sekedar memenuhi kewajiban tanpa mengerti maksud dan tujuan adanya RPP. Mengapa demikian? karena guru selama ini sudah merasa bisa mengajar dan dengan pengalaman mengajarnya itu sudah cukup, apa buktinya? buktinya anak-anak ya bisa membaca, menulis, dan nilai ujiannya baik. Itulah alasan guru, ketika dikritik mengapa tidak membuat RPP. Apa jadinya konteks mengajar guru tanpa RPP? yang terjadi adalah guru asal mengajar dengan media ala kadarnya tanpa strategi pembelajaran yang cocok dan bahkan guru mengajar dengan teks book. Pada akhirnya terbentuklah manusia yang kurang kreatif dan lebih monoton dalam berpikir. Maka hilanglah makna kegiatan pembelajaran di kelas. Untuk itu wahai guru yang bijak cobalah sekarang susun RPP dengan sebaik-baiknya sehingga mampu meningkatkan mutu generasi masa depan baik intelektual maupun kepribadiannya. Amin Semoga menjadi guru yang bijaksana.
Entries categorized as ‘guru’
Bagaimanakah Menjadi Guru Ideal!
February 28, 2008 · 5 Comments
Dalam perjalanan bangsa, pendidikan merupakan modal dasar pembangunan yang akan menentukan arah perkembangan dan kemajuan suatu bangsa dan negara. Pemerintah berupaya meningkatkan kualitas guru, dengan berbagai cara salah satunya adalah sertifikasi guru. Melalui sertifikasi ini diharapkan para guru dapat bertindak secara profesional? Sebenarnya apakah seorang guru itu harus profesional?. Dari kata profesional ini, seolah-olah guru yang bersertifikasi adalah guru yang benarr-benar mumpuni dan dapat ditiru oleh anak didiknya segala tindakannya, sesuai dengan istilah jawa, guru adalah digugu lan ditiru (segala perkataannya selalu diperhatikan anak dan tingkahlakunya akan ditiru anak).
Ketika seorang guru berkata pada anak didiknya, “Anak-anak kalau datang itu jangan terlambat, kalau ingin sukses kalian harus disiplin, tepat waktu!” “ya pak guru” jawab muridnya serentak. Guru juga memberi petuah lagi “Anak-anak, kalau ada sampah berserakkan maka kita harus meletakkan pada tempatnya, yaitu dimana?” tempat sampah pak, jawab anak-anak dengan penuh semangat. Bagus, bagus… “jawab guru”. Hal ini membutktikan bahwa semua perkataan gurunya selalu diiyakan siswanya.
Keesokkan harinya guru datang pukul 07.10 menit. Anak-anak bagaimana pelajaran hari ini apa kalian siap belajar? Siap, karena dari tadi kita menunggu” jawab muridnya. Bagus kalian sangat tertib dan disiplin. Puji gurunya. Kemudian bel istirahat berbunyi tet… tet… anak-anak boleh istirahat” kata guru. Jangan lupa ya! Kalau ada sampah diambil dan diletakkan pada tempatnya. Perintah gurunya. Waktu bermain anak-anak melihat gurunya tadi berjalan dengan santai dan hanya melihat dengan cuek beberapa bungkus makanan yang berceceran. Dengan santai guru masuk ruangan dan membolak-balik buku pelajaran yang akan disampaikan pada muridnya.
Inilah contoh atau gambaran bentuk sertifikasi yang dilakukan pemerintah kepada guru. Karena, itu saya prihatin melihat para guru yang rata-rata mengedepankan intelektual dari pada hati yang berbicara. Mengedepankan ceramahnya dan tutur pituturnya dari pada perbuatan yang dilakukannya. Ketika musim sertifikasi guru berusaha menjadi seorang pembohong dan pendusta. Kenapa tidak semua kumpulan makalah difoto copy, piagam dipalsukan. Hanya mengejar selembar kertas bergambar soeharto atau yang lain. Naifnya seorang guru bersertifikasi. Untuk itu perlu disadari sesungguhnya guru ideal yang didambakan seorang anak adalah keteladanan dan perlu contoh, serta bukti dimana apa yang dikatakan pasti dilakukannya.
Saya pribadi merasa risih dengan kejadian yang mencorang nama baik guru, seyogyanyalah kita kembali ke khitah kita sebagai orang yang tahu malu, dan dengan mengedepankan kejujuran, serta suritauladan. Guru teladan yaitu ketika ia menyuruh anak didiknya untuk disiplin maka ia terlebih dahulu belajar untuk disiplin, ketika menyuruh anak didiknya jika ada sampah berserakkan diambil, maka terlebih dahulu kita membersihkannya, dan sebaginya. Jadi hendaknya guru selalu mengedepankan perbuatan, kemudian menyampaikan kepada anak didiknya. Karena anak sejatinya selalu melihat, dan mencotoh apa yang dilakukan seorang guru. Tetapi jika hanya mendengar saja pasti yang didengarnya itu akan terlintas sesaat kemudian musnah dihilangkan oleh perbuatan guru itu sendiri. Karena kunci keberhasilan seorang guru ada pada perilaku dan perkataannya, dan bukan karena lulus sertifikasi guru (more…)
Categories: guru · guru ideal · guru sd
Tagged: guru ideal, guru sd
Apa bedanya Guru dengan Siswa?
February 19, 2008 · 3 Comments
Anak-anakku sayang rajinlah belajar, “kata seorang guru”, dengan lemah lembut. Ya bu/pak “jawab siswa”, dengan semangat. Guru menyuruh siswa belajar, tetapi apakah gurunya juga mau belajar?… Inilah kadangkala yang harus dicermati oleh semua guru. Karena simbolnya guru itu digugu lan ditiru. Maka hendaknyalah sadar bahwa mencari ilmu itu merupakan kewajiban setiap manusia. sesuai sabda Rasul “Tuntutlah Ilmu Walaupun Sampai ke negeri Cina”. tetapi ealah gurupun juga manusia, ketika akan diadakan pelatihan menulis artikel… wajahnya bak disambar petir menjadi merah padam dan rambut naik semua mengerikan …. hi..hi.. takut… Wah sekarang diganti ajalah siapa yang mau belajar wordpress silakan mendaftar? eh … ternyata juga ada yang tidak ikut, dengan alasan bermacam-macam… tetapi juga ada yang semangat ikut lho… oh ya jangan ge er dulu ternyata ada yang ikut sambel ngomel, pelatihan lagi… tapi gak ikut nanti dimarahi … hi lucu guru kok takut dimarahi…. he… he… Nah mumpung latihan bikin wordpress…, ayo semangat asyik kok pasti nanti ketagihan.. karena salah satunya dengan belajar wordpress pengetahuan kita pasti akan meningkat. Oke jangan pandai nyuruh siswa. sekarang buktikan bahwa guru juga belajar setiap saat
Categories: belajar · guru · siswa · wordpress
Tagged: belajar, guru, siswa, wordpress
Materi Mata pelajaran untuk anak SD perlu atau tidak?
February 3, 2008 · 3 Comments
Ketika ada pertanyaan apa bunyi pasal 27 UUD dalam soal UAS atau UPM di sekolah dasar. rasanya kok lucu dan menggelitik. Ketika anak hafal pasti akan senang menjawab, untuk anak yang gak hafal pasti bingung, dan menggerutu soal kok seperti ini, apa saya harus hafal isi UUD?… wong anggota DPR / MPR yang bikin aja gak hafal apalagi saya, dan gunanya saya hafal juga buat apa, emang gue pikirin. Tapi klo disuruh jawab ya.. akhrnya menghitung kancing aja yang penting diisi, syukur-syukur bener he…. (more…)
Categories: DPR · MPR · SD · UUD · dunia pendidikan · guru · kurikulum · mata pelajaran · pancasila · pasal · sosial
Tagged: anak bangsa, bahasa, DPR, kurikulum, MPR, pancasila, pendidikan, PPKn, sekolah dasar, sma, sosial, UUD
KTSP, bagaimana dan mengapa?
January 30, 2008 · Leave a Comment
KTSP, sering diartikan banyak guru dengan singkatan kurikulum terserah sampeyan piambak (kurikulum terserah kamu sendiri). Sebenarnya Kurikulum 2006 itu merupakan perbaruan yang mendasar dengan orientasi mengembangkan dan meningkatkan mutu pendidikan nasional. tetapi dalam pelaksanaannya belum secara serius dilaksanakan oleh lembaga pendidikan tingkat sekolah mapun lembaga pendidikan daerah. Kalaupun memang kurikulum itu dibuat dan dikembangkan oleh sekolah seyogyanya sekolalah yang akan mengadakan asesmen penilaian dan mengevaluasi proses pembelajaran, dengan disesuaikan budaya dan kurikulum sekolah. Sekali lagi tidak kekonsistenan pemimpin lembaga pendidikan mengakibatkan tidak berjalannya kurikulum pembelajaran dengan sebaik-baiknya. Apakah hal ini terkait dengan dana pembuatan soal?…. Kalau dihitung secara materi maka yang akan dirugikan jika sekolah mengadakan asesmen pembelajaran yaitu kepala diknas, percetakkan, buku penerbit, dan sebagainya. bagaimana tidak untuk mencetak soal butuh percwetakkan, soal-soal diambil dari buku penerbit, pegawai diknas dapat uang tanggungjawab, dan lain-lain. Akhirnya terjadilah tradisi untuk mengambil keuntungan diri sendiri tanpa menghiraukan kurikulum yang berlaku. akibatnya bangsa ini akan runtuh secara berlahan-lahan karena generasi mudanya akan loyo. Untuk itu solusinya adalah kerjakan sesuatu dengan konsisten dan penuh kejujuran, serta tanggungjawab dengan amanah dan serius demi kepentingan anak bangsa.
Categories: guru · ktsp · kurikulum
Tagged: buku, ktsp, kurikulum, kurikulum tingkat satuan pendidikan, penerbit
Sertifikasi Guru Menguras Uang Rakyat
January 18, 2008 · 8 Comments
Buat apa susah-suah sertifikasi guru, toh nyatanya guru tetap tidak berkualitas. Guru yang disertifikasi hanya mencari ijasah, sertifikat, dan copy makalah sana-sini pokoknya dapat uang tujangan sertifikasi!!! Klo gak lulus tambah uenakkkk, soale nginap di hotel, makan enak, dengan dalih pelatihan guru. Ujung-ujungnya uang rakyat dipakai untuk mbayar guru yang gak lulus perguru 1.5 juta, dan yang natar Rp. 1 juta per hari. Nginap di hotel…….. wow… uenaknya ikut sertifikasi tapi gak lulus, sebab ngak ngajar, tapi makan uenak sambil dengar orang ceramah. He…. he… Guru kok kayak dagelan.
Categories: guru · sertfikasi guru
Tagged: guru, ijasah, kualitas guru, sertifikasi guru