<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Ari Dwi Haryono &#187; keluarga</title>
	<atom:link href="http://aflah.wordpress.com/category/keluarga/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aflah.wordpress.com</link>
	<description>Merdeka...</description>
	<lastBuildDate>Wed, 28 Jan 2009 07:33:03 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='aflah.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/43375052a1782a54534021119c39e16b?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Ari Dwi Haryono &#187; keluarga</title>
		<link>http://aflah.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://aflah.wordpress.com/osd.xml" title="Ari Dwi Haryono" />
		<item>
		<title>Keluarga, Bermain dan Belajar</title>
		<link>http://aflah.wordpress.com/2008/02/18/keluarga-bermain-dan-belajar/</link>
		<comments>http://aflah.wordpress.com/2008/02/18/keluarga-bermain-dan-belajar/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Feb 2008 07:26:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aflah</dc:creator>
				<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[bermain]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[bermain sambil belajar]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aflah.wordpress.com/?p=35</guid>
		<description><![CDATA[ 	 	 	 	 	 	 	
         Bermain sebagai kegiatan yang dilakukan berulang-ulang demi kesenangan (piaget. 1951). Menurut Hughes (1999) dalam Andang Ismail (2006) bermain merupakan hal yang berbeda dengan belajar dan bekerja. Suatu kegiatan yang disebut bermain harus ada lima unsur di dalamnya yaitu, (1) mempunyai tujuan, yaitu permainan itu sendiri [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aflah.wordpress.com&blog=2542803&post=35&subd=aflah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><title></title> 	 	 	 	 	 	<!-- 		@page { size: 21cm 29.7cm; margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } 	--> 	</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:200%;" align="left"> <font size="3">        Bermain sebagai kegiatan yang dilakukan berulang-ulang demi kesenangan (piaget. 1951). Menurut Hughes (1999) dalam Andang Ismail (2006) bermain merupakan hal yang berbeda dengan belajar dan bekerja. Suatu kegiatan yang disebut bermain harus ada lima unsur di dalamnya yaitu, (1) mempunyai tujuan, yaitu permainan itu sendiri untuk mendapat kepuasan, (2) memilih dengan bebas dan atas kehendak sendiri, tidak ada yang menyuruh maupun memaksa, (3) menyenangkan dan dapat menikmati, (4) mengkhayal untuk membayangkan daya imajinasi dan kreativitas, (5) melakukan secara aktif dan sadar.</font><span id="more-35"></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:200%;" align="left"> <font size="3">        Permainan yang dilakukan bermacam-macam, alat tempat, teman bermain dan lingkungan hidupnya yang digunakan juga berbeda.  Melalui permainan anak-anak dapat mengekspresikan diri untuk memperoleh kompensasi atas hal-hal yang tidak mungkin dialaminya. Dengan bermain dan menggunakan alat-alat permainan inilah anak-anak mengadaptasikan dirinya terhadap lingkungan. Melalui permainan pula anak-anak dapat berkenalan dan berinteraksi dengan orang-orang dan hal-hal yang mengelilinginya sehingga mereka menjadi akrab. Karena model atau gaya bermain anak yang selalu melibatkan orang atau alat permainan disekitarnya. Hal ini nampak dari hasil observasi bahwa anak kadangkala fokus pada alat permainan, dan dengan adanya kawan bermain ada kalanya mereka saling adu argumentasi, saling ejek, bila terjadi penyelewengan peraturan permainan yang telah disepakati.</font></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:200%;" align="left"> <font size="3">	        Permainan merupakan kesibukkan yang ditentukan oleh sendiri, tidak ada unsur paksaan, desakan atau perintah, dan tidak mempunyai tujuan tertentu. Untuk itulah diperlukan pendampingan dan arahan pada anak ketika malakukan kegiatan bermain mengarah pada permainan edukatif, dan bernilai pedagogis dan religiuos. Untuk itu diperlukan peran keluarga  dalam meletakkan pondasi dasar pendidikan pada anak. Karena keluarga merupakan tempat pendidikan yang pertama dan utama bagi anak. </font></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:200%;"><font size="4"><b>Pendidikan dalam Keluarga</b></font></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:200%;">	Keluarga mempunyai tugas fundamental dalam mempersiapkan anak di masa depan. Dasar-dasar perilaku, sikap hidup, dan berbagai kebiasaan ditanamkan kepada anak sejak dalam lingkungan keluarga. Semua dasar yang menjadi landasan bagi pengembangan pribadinya itu tidak mudah berubah. Oleh sebab itu, penting sekali diciptakan lingkungan keluarga yang baik, dalam arti menguntungkan bagi kemajuan dan perkembangan pribadi anak serta mendukung terciptanya tujuan pendidikan yang dicita-citakan. (Soekanto, S. 1992)</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:200%;">        Lingkungan keluarga batih merupakan lingkungan pendidikan terdekat untuk itu hendaknya memberikan suasana emosional yang baik bagi anak-naknya, seperti perasaan senang, aman, sayang dan dilindungi, mengetahui dasar-dasar kependidikan, terutama berkenaan dengan kewajiban dan tanggungjawab orang tua terhadap pendidikan anak serta tujuan dan isi pendidikan yang diberikan. Bekerja sama dengan lembaga pendidikan yaitu sekolah, lembaga agama, lembaga kursus, kegiatan kepramukaan dan sebagainya. Untuk itu diperlukan hubungan orang tua dengan anak dalam kegiatan mendidik dan peran orang tua dalam pendidikan anak.</p>
<p><font size="3"><i><b>Hubungan Orang Tua dengan Pendidikan Anak</b></i></font></p>
<p><font size="3"><i><b></b></i></font></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:200%;">        Pada hakikatnya anak dilahirkan dengan membawa potensi dasar (fitrah), maka kewajiban orang tua, ialah membimbing dan membina fitrah tersebut pada arah yang dapat menguntungkan bagi perkembangan, kecakapan dan motorik anak sehingga menjadi generasi yang kreatif dan mandiri. Orang tua juga harus dapat memenuhi kasih sayang serta menjaga dan mengembangkan potensi dan kreativitas anak. Usia 0;0;1 – 15;0;0 merupakan usia peka bagi anak, karena itu menjadi titik tolak paling strategis untuk mengukir kualitas seorang anak di masa depan.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:200%;">        Melihat kondisi kemasyarakatan dan kebudayaan Indonesia dewasa ini dalam situasi transisi, dan sekaligus sedang menderita akibat kemrosotan moral baik di wilayah perkotaan dan pedesaaan, yang diakibatkan arus informasi yang tidak terkontrol dengan baik dalam media elektronik yang dipertontonkan dan dilihat oleh anak-anak. Misalnya film sadis, narkoba, “dugem”, dan sebagainya yang sangat mudah ditiru anak. Dari permasalahan tersebut mendorong orang tua baik yang keduanya bekerja atau bapaknya saja yang bekerja dan ibunya di rumah mempercayakan pendidikan pada sekolah dan lembaga agama (TPQ, pesantren, dll).</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:200%;">        Hal ini terlihat dari observasi yang dilakukan di 4 wilayah di Jawa Timur baik yang ada di daerah perkotaan maupun pedesaan, orang tua berusaha untuk memenuhi pendidikan anak dengan sebaik-baiknya dengan mempercayakan pada lembaga pendidikan. Hal ini menunjukkan bahwa orang tua sangat mempercayakan pendidikan anak pada lembaga pendidikan dan lembaga agama. Biasanya lembaga agama mendidik individu sejak anak berusia 0;0;1 – 15;0;0 selama beberapa jam tiap hari, sedangkan lembaga sekolah mendidik individu anak berusia 0;0;6 – 15;0;0 selama <u>+</u><span style="text-decoration:none;"> 5 jam tiap hari terkait dengan misi pendidikan sekolah yaitu pendidikan socio-sivics dan intelektual, sedangkan lembaga agama lebih banyak mengurus pendidikan kepribadian. Lembaga keluarga bertanggungjawab atas kepribadian, socio-sivics dan intelektual dengan segala keterbatasan.</span><font size="3"><i><b></b></i></font></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:200%;"><font size="3"><i><b> Peranan Orang Tua</b></i></font></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:200%;">	<font face="Times New Roman, serif"></font><font size="3"><span style="font-style:normal;">        Anak-anak yang dibesarkan dalam rumah tangga yang lebih banyak berbahagia lebih banyak tumbuh bahagia dan sehat secara psikologis. Tetapi, anak-anak yang dari keluarga “selaput kosong” tidak demikian, meskipun tidak terjadi. (William J. Goode. 1985). Untuk itu  peranan orang tua sangat dominan dalam menentukan keberhasilan anak. </span></font>Dari hasil pengamatan penulis pada anak-anak ketika bermain diperlukan suatu arahan pada setiap permainan untuk menghindari jenis permainan yang dapat membahayakan anak dan   menghindari perilaku negatif anak. Dukungan dari kedua orang tua sangat diperlukan karena orang tua dituntut untuk waspada agar tidak terjerumus pada perilaku yang bertentangan pada kaidah-kaidah kreatif. Misalnya memberi contoh anak berkata kotor, memutar film sadis, dan sebagainya. Karena akibatnya anak-anak dapat mencontoh prilaku yang diperbuat oleh orang tuanya. Dari pantauan penulis peran orang tua terhadap perkembangan anak dipengaruhi oleh  usia, pekerjaan dan tingkat pendidikan orang tua.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:200%;">	        Untuk orang tua yang berusia muda lebih bersifat demokratis dalam memberikan kebebasan pada anak ketika bermain dibanding orang tua yang sudah berumur, karena orang tua yang sudah berumur biasanya selalu mengekang anak dengan adat istiadat “kesopanan”. Untuk kedua orang tua yang sama-sama bekerja cenderung memberikan fasilitas dan memanjakan anak serta menyerahkan pendidikan anak pada lembaga pendidikan misal sekolah, pesantran, TPQ, dll. Untuk orang tua yang ibunya tidak bekerja lebih selektif dalam memantau anak ketika bermain, tetapi ibu kecenderungan mengisi waktu dengan melihat acara televisi, hal ini mendorong anak juga ikut melihat apa yang dilihat ibunya. Padahal usia 0 – 6 tahun merupakan usia yang paling peka bagi anak. Karena itu, ia menjadi titik tolak paling strategis untuk mengukir kualitas seorang anak di masa depan. Anak kaya akan daya khayal, pikir, rasa ingin tahu, dan kreativitas tinggi. Menurut data penelitian Dr. Keith Osborn (Ismail, A. 2006) puncak perkembangan kecerdasan anak sesungguhnya terjadi sejak anak baru lahir sampai usia 5 tahun.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:200%;">        Dari data pengamatan di atas masih ada kecenderungan peran orang tua yang belum berkualitas, dalam mengembangkan kreativitas anak. Mengingat kreativitas sangat dibutuhkan  manusia agar menjadi pribadi yang memiliki kemampuan kecerdasan yang tinggi, pengendalian emosi yang baik, serta kuat mental spiritualnya. Untuk itu hendaknya orang tua dapat melakukan peranan dalam mengembangkan kreativiatas anak dalam permainan dengan melakukan hal-hal berikut; (1) menunjang dan mendorong kegiatan yang diminati anak, (2) menikmati keberadaan bersama anak, (3) menjalin hubungan kerjasama yang baik dengan anak, (4) mendorong kemandirian anak dalam bekerja, (5) memberikan pujian yang sungguh-sungguh pada hasil karya anak, (6) memberi kesempatan pada anak untuk berpikir, merenung dan berkhayal, (7) merangsang daya pikir anak dengan cara mengajak berdiskusi tentang hal yang mampu dipikirkan anak, (8) memberikan kesempatan kepada anak untuk dapat menentukan atau mengambil keputusan, (9) membantu anak yang menemukan kesulitan dengan memberikan penjelasan yang diterima akal anak, (10) memberikan fasilitas yang cukup bagi anak untuk bereksperimen dan bereksplorasi, (11) memberi contoh membuat karya kreatif.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/aflah.wordpress.com/35/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/aflah.wordpress.com/35/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aflah.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aflah.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aflah.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aflah.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aflah.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aflah.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aflah.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aflah.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aflah.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aflah.wordpress.com/35/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aflah.wordpress.com&blog=2542803&post=35&subd=aflah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aflah.wordpress.com/2008/02/18/keluarga-bermain-dan-belajar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b1864f5343b0bfb4b42f9f7630a272f2?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">aflah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Peran Keluarga dan Sekolah Terhadap Perkembangan Emosi</title>
		<link>http://aflah.wordpress.com/2008/01/31/peran-keluarga-dan-sekolah-terhadap-perkembangan-emosi/</link>
		<comments>http://aflah.wordpress.com/2008/01/31/peran-keluarga-dan-sekolah-terhadap-perkembangan-emosi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Jan 2008 07:39:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aflah</dc:creator>
				<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[perkembangan emosi]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[emosi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aflah.wordpress.com/?p=30</guid>
		<description><![CDATA[ 	 	 	 	 	 	 	
Emosi dapat dikembangkan oleh keluaraga, sekoah dan lingkungan. Untuk mengembangkan emosi agar berdampak positif maka perlu dilakukan upaya proses belajar yang salah satunya dengan menggunakan metode atau kegiatan bermain. Melalui bermain anak dapat menumpahkan seluruh perasaannya, seperti: marah, takut, sedih, cemas atau gembira. Dengan demikian, bermain dapat merupakan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aflah.wordpress.com&blog=2542803&post=30&subd=aflah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><title></title> 	 	 	 	 	 	 	<!-- 		@page { size: 21cm 29.7cm; margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } 	--></p>
<p style="margin-left:-0.03cm;text-indent:0.53cm;line-height:150%;" align="left"><font color="#000000"><span>Emosi dapat dikembangkan oleh keluaraga, sekoah dan lingkungan. Untuk mengembangkan emosi agar berdampak positif maka perlu dilakukan upaya proses belajar yang salah satunya dengan menggunakan metode atau</span></font><font color="#000000"><span> kegiatan bermain. Melalui bermain </span></font><span>anak dapat menumpahkan seluruh perasaannya, seperti: marah, takut, sedih, cemas atau gembira. Dengan demikian, bermain dapat merupakan sarana yang baik untuk pelampiasan emosi, sekaligus relaksasi. Misalnya saja pada saat anak bermain pura-pura atau bermain dengan bonekanya. Selain itu bermain juga dapat memberi kesempatan pada anak untuk merasa kompeten dan percaya diri. Dalam bermain, anak juga dapat berfantasi sehingga memungkinkannya untuk menyalurkan berbagai keinginan-keinginannya yang tidak dapat direalisasikan dalam kehidupan nyata ataupun menetralisir berbagai emosi-emosi negatif yang ada pada dirinya seperti rasa takut, marah dan cemas.</span><span id="more-30"></span></p>
<p style="line-height:150%;"><font face="Times New Roman, serif">	John Mayer, psikolog dari University of New Hampshire, mendefinisikan kecerdasan emosi yaitu kemampuan untuk memahami emosi orang lain dan cara mengendalikan emosi diri sendiri. Lebih lanjut pakar psikologi Cooper dan Sawaf (1998) mengatakan bahwa kecerdasan emosional kemampuan merasakan, memahami, dan secara selektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi dan pengaruh yang manusiawi. Kecerdasan emosi menuntut penilikan perasaan, untuk belajar mengakui, menghargai perasaan pada diri dan orang lain serta menanggapinya dengan tepat, menerapkan secara efektif energi emosi dalam kehidupan sehari-hari</font></p>
<p style="line-height:150%;"><font face="Times New Roman, serif"><span>	Dapat disimpulkan </span></font><b><font face="Times New Roman, serif"><span>Kecerdasan emosi</span></font></b><font face="Times New Roman, serif"><span> dapat diartikan </span></font><b><font face="Times New Roman, serif"><span>kemampuan untuk mengenali, mengelola, dan mengekspresikan dengan tepat, termasuk untuk memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain, serta membina hubungan dengan orang lain</span></font></b><b><font face="Times New Roman, serif">.</font></b><font face="Times New Roman, serif"> Jelas bila seorang individu mempunyai kecerdasan emosi tinggi, dapat hidup lebih bahagia dan sukses karena percaya diri serta mampu menguasai emosi atau mempunyai kesehatan mental yang baik.</font></p>
<p style="line-height:150%;"><font face="Times New Roman, serif">	Guru dan keluarga dapat mengembangkan keterampilan kecerdasan emosional seorang anak dengan memberikan beberapa cara yaitu:</font></p>
<p style="margin-left:0.4cm;text-indent:-0.4cm;line-height:150%;"> <font face="Times New Roman, serif">1. Mengenali emosi diri anak , mengenali perasaan anak sewaktu perasaan yang dirasakan terjadi merupakan dasar kecerdassan emosional. kemampuan untuk memantau peraaan dari waktu kewaktu merupakan hal penting bagi pemahahaman anak. </font></p>
<p style="margin-left:0.4cm;text-indent:-0.4cm;line-height:150%;"> <font face="Times New Roman, serif">2. Mengelola emosi, menangani perasan anak agar dapat terungkap dengan tepat kemampuan untuk menghibur anak , melepasakan kecemasan kemurungan atau ketersinggungan, atau akibat – akibat yang muncul karena kegagalan.</font></p>
<p style="margin-left:0.42cm;text-indent:-0.42cm;line-height:150%;"> <font face="Times New Roman, serif">3. Memotivasi anak, penataan emosi sebagai alat untuk mencapai tujuan adalah hal yang sangat penting dalam keterkaitan memberi perhatian dan kasih sayang untuk memotivasi anak dalam melakukan kreasi secara bebas. </font></p>
<p style="line-height:150%;"><font face="Times New Roman, serif">4. Memahami emosi anak. </font></p>
<p style="margin-left:0.42cm;text-indent:-0.42cm;line-height:150%;"> <font face="Times New Roman, serif">5. Membina hubungan dengan anak, Setelah kita melakukan identifikasi kemudian kita mampu mengenali, hal lain yang perlu dilakukan untuk dapat mengembangkan kecerdasan emosional yaitu dengan memelihara hubungan. </font></p>
<p style="margin-left:0.45cm;text-indent:-0.48cm;line-height:150%;"> <font face="Times New Roman, serif">6. Berkomunikasi “dengan jiwa “, Tidak hanya menjadi pembicara terkadang kita harus memberikan waktu lawan bicara untuk berbicara juga dengan demikian posisikan diri kita menjadi pendengar dan penanya yang baik dengan hal ini kita diharapkan mampu membedakan antara apa yang dilakukan atau yang dikatakan anak dengan reaksi atau penilaian.</font></p>
<p style="line-height:150%;">&nbsp;</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/aflah.wordpress.com/30/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/aflah.wordpress.com/30/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aflah.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aflah.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aflah.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aflah.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aflah.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aflah.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aflah.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aflah.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aflah.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aflah.wordpress.com/30/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aflah.wordpress.com&blog=2542803&post=30&subd=aflah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aflah.wordpress.com/2008/01/31/peran-keluarga-dan-sekolah-terhadap-perkembangan-emosi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b1864f5343b0bfb4b42f9f7630a272f2?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">aflah</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>