Bu/ pak guru gimana cara menjawab soal ini. ” ah kamu gini aja gak bisa” kata guru. kemudian si guru menjelaksan panjang…. dan lebar…., udah kamu ngerti? sudah pak “jawab siswa” sambil menggaruk-garuk kepala menandakan kebingungaannya. Hal ini contoh paradigma pendidikan saat ini, sehingga muncul selogan ” kalau tedak menerangkan bukan guru”. tetapi pemerintah menghimbau adanya paradigma baru yaitu siswa sebagai subjek aktif, kreatif, inovatif, untuk memunculkan ide, gagasan, dalam kegiatan pembelajaran. tetapi kenyataan di berbagai sekolah guru sulit untuk diajak berubah. Maka dari perubahan datangnya dari guru itu sendiri. Dimana guru diharapkan dapat memunculkan karakter anak sesuai bakat dan minat yang dimilikinya. Melalui berbagai model pembelajaran yang efektif guru dapat menggali imajinasi siswa dengan berbagai pertanyaan yang mampu mengarahkan siswa belajar dengan bermakna. Meskipun demikian hal ini sulit dilaksanakan, karena sosok guru, seolah-olah merupakan sumber ilmu dan paling pandai di kelas. Guru cenderung masih sering bicara atau menerangkan dianding mengarahkan agar siswa mampu belajar mandiri. untuk itu sebaiknya bagaimana seorang guru mampu menyusun pertanyaan yang dapat mengerahkan siswa dalam belajar, karena melalui pertanyaan-pertanyaan diharapkan siswa dapat menjawab dan melaksanakan kegiatan yang mengasyikkan dan berusaha untuk menemukan dan menyimpulkan apa yang telah dipelajarinya. Insyaallah dengan cara tersebut guru juga mampu mengases berbagai siswa dan memahami sejauh mana siswa tersebut berpikir dan memahami materi.
“Kalau Tidak Menerangkan Bukan Guru”
April 18, 2008 · 4 Comments
→ 4 CommentsCategories: Uncategorized
Tagged: belajar, guru, pendidikan, siswa
Belajar dari Permasalahan
March 16, 2008 · Leave a Comment
Anak-anak mulai memecahkan masalah dengan “percobaan dan kesalahan” mulai sejak berumur beberapa bulan. Kegiatan mengajar, seperti mencari jumlah dari 48 +96, kadang-kadang disebut masalah. Latihan berhitung bukan meerupakan masalah. Suatu masalah terjadi ketika seseorang menginginkan untuk mencapai suatu tujuan, tapi tidak dapat segera mencapai tujuan tersebut. Pemecahan masalah kemudian menjadi proses untuk mencapai tujuan tersebut dan mencapai tujuan tersebut. Setiap tindakan pada pemecahan masalah menggunakan suatu proses. Fokus dasar dalam mengembangkan pemecah masalah harus mengajarkan pada proses, dan bukan untuk mencari solusinya (yang hanya merupakan hasil akhir dari proses pemecahan masalah). Keterampilan berhitung yang siswa kembangkan selama di sekolah dasar adalah alat sederhana yang dapat digunakan dalam proses pemecahan masalah. Karena keterampilan adalah pengenalan terbaik saat digunakan dalam konteks pemecahan masalah. Motivasi untuk belajar bagaimana menghitung harus dimulai dari konteks masalah. Aplikasi dari keterampilan berhitung, khususnya sebagai alat untuk pemecahan masalah, harus kembali menjadi fokus utama dalam belajar selama pengembangan keterampilan berhitung. Jika seorang anak menjadi seorang yang ahli dalam berhitung, tapi tidak dapat menggunakan ketrampian yaitu untuk memecahkan masalah, maka anak tersebut hanya mempela1ari sedikit dari nilai praktik. Dalam hal lainnya, jika seorang anak mempunyai variasi yang banyak dalam strategi untuk memecahkan masalah, tapi mengalami kesulitan/lemah dalam berhitung, maka anak tersebut dapat mengatasi kekurangan tersebut dengan menggunakan kalkulator atau program mikrokomputer. Keep reading →
→ Leave a CommentCategories: belajar · matematika · problem solving · sekolah dasar
Tagged: belajar, belajar matematika, matematika, pendidikan dasar, problem solving, sekolah dasar
Menggunakan Jam Untuk Menghitung Perkalian
March 4, 2008 · 3 Comments
Ketika saya mengajar perkalian, dengan semangat yang tinggi saya berusaha agar anak-anak bisa menyelesaikan soal perkalian sesuai dengan cara seperti yang saya lakukan. sebenarnya ini sih namanya egois… karena maunya guru, bukan bagaimana siswa mampu belajar dengan caranya sendiri. tetapi dalam hati saya berpikir, kesalahan yang dilakukan anak dalam mengalikan bilangan dikarenakan anak tidak bisa melakukan perkalian dasar dengan tepat dan benar. Pada perkalian dasar sebenarnya anak sudah paham terhadap konsep perkalian, tetapi ternyata anak-anak tidak ingat diluar kepala perkalian dasar, dan kecenderungannya mereka memakai bantuan alat misalnya dengan jari. Tetapi ketika saya memberikan soal perkalian untuk mengukur kemampuan siswa, apakah materi perkalian itu sudah bermakna atau dipahami anak. saya terkejut melihat seorang siswa yang dari tadi memperhatikan jam dinding. Apa ya yang terjadi pikir saya dalam hati?…. Keep reading →
→ 3 CommentsCategories: belajar matematika · konsep · matematika SD · perkalian
Tagged: jam, konsep perkalian, matematika, SD
Bagaimanakah Menjadi Guru Ideal!
February 28, 2008 · 5 Comments
Dalam perjalanan bangsa, pendidikan merupakan modal dasar pembangunan yang akan menentukan arah perkembangan dan kemajuan suatu bangsa dan negara. Pemerintah berupaya meningkatkan kualitas guru, dengan berbagai cara salah satunya adalah sertifikasi guru. Melalui sertifikasi ini diharapkan para guru dapat bertindak secara profesional? Sebenarnya apakah seorang guru itu harus profesional?. Dari kata profesional ini, seolah-olah guru yang bersertifikasi adalah guru yang benarr-benar mumpuni dan dapat ditiru oleh anak didiknya segala tindakannya, sesuai dengan istilah jawa, guru adalah digugu lan ditiru (segala perkataannya selalu diperhatikan anak dan tingkahlakunya akan ditiru anak).
Ketika seorang guru berkata pada anak didiknya, “Anak-anak kalau datang itu jangan terlambat, kalau ingin sukses kalian harus disiplin, tepat waktu!” “ya pak guru” jawab muridnya serentak. Guru juga memberi petuah lagi “Anak-anak, kalau ada sampah berserakkan maka kita harus meletakkan pada tempatnya, yaitu dimana?” tempat sampah pak, jawab anak-anak dengan penuh semangat. Bagus, bagus… “jawab guru”. Hal ini membutktikan bahwa semua perkataan gurunya selalu diiyakan siswanya.
Keesokkan harinya guru datang pukul 07.10 menit. Anak-anak bagaimana pelajaran hari ini apa kalian siap belajar? Siap, karena dari tadi kita menunggu” jawab muridnya. Bagus kalian sangat tertib dan disiplin. Puji gurunya. Kemudian bel istirahat berbunyi tet… tet… anak-anak boleh istirahat” kata guru. Jangan lupa ya! Kalau ada sampah diambil dan diletakkan pada tempatnya. Perintah gurunya. Waktu bermain anak-anak melihat gurunya tadi berjalan dengan santai dan hanya melihat dengan cuek beberapa bungkus makanan yang berceceran. Dengan santai guru masuk ruangan dan membolak-balik buku pelajaran yang akan disampaikan pada muridnya.
Inilah contoh atau gambaran bentuk sertifikasi yang dilakukan pemerintah kepada guru. Karena, itu saya prihatin melihat para guru yang rata-rata mengedepankan intelektual dari pada hati yang berbicara. Mengedepankan ceramahnya dan tutur pituturnya dari pada perbuatan yang dilakukannya. Ketika musim sertifikasi guru berusaha menjadi seorang pembohong dan pendusta. Kenapa tidak semua kumpulan makalah difoto copy, piagam dipalsukan. Hanya mengejar selembar kertas bergambar soeharto atau yang lain. Naifnya seorang guru bersertifikasi. Untuk itu perlu disadari sesungguhnya guru ideal yang didambakan seorang anak adalah keteladanan dan perlu contoh, serta bukti dimana apa yang dikatakan pasti dilakukannya.
Saya pribadi merasa risih dengan kejadian yang mencorang nama baik guru, seyogyanyalah kita kembali ke khitah kita sebagai orang yang tahu malu, dan dengan mengedepankan kejujuran, serta suritauladan. Guru teladan yaitu ketika ia menyuruh anak didiknya untuk disiplin maka ia terlebih dahulu belajar untuk disiplin, ketika menyuruh anak didiknya jika ada sampah berserakkan diambil, maka terlebih dahulu kita membersihkannya, dan sebaginya. Jadi hendaknya guru selalu mengedepankan perbuatan, kemudian menyampaikan kepada anak didiknya. Karena anak sejatinya selalu melihat, dan mencotoh apa yang dilakukan seorang guru. Tetapi jika hanya mendengar saja pasti yang didengarnya itu akan terlintas sesaat kemudian musnah dihilangkan oleh perbuatan guru itu sendiri. Karena kunci keberhasilan seorang guru ada pada perilaku dan perkataannya, dan bukan karena lulus sertifikasi guru Keep reading →
→ 5 CommentsCategories: guru · guru ideal · guru sd
Tagged: guru ideal, guru sd
Apa Beda Bilangan dan Angka
February 27, 2008 · Leave a Comment
Orang seringkali menyebut 1, 2, 3,…. adalah angka. kemudian adakalanya mengatakan 1, 2, 3, … adalah bilangan. mana sih yang benar?…. pusing deh… angka atau bilangan. coba pikir dulu baik-baik…
Menurut sejarah ketika orang melakukan kegiatan membilang atau mencacah kebingungan untuk memberikan lambang bilangannya. tetapi kemudian dibuatlah sistem numerasi yaitu sistem yang terdiri dari numerial (lambang bilangan/angka) dan number (bilangan). Sistem numerasi adalah aturan untuk menyatakan menuliskan bilangan dengan menggunakan sejumlah lambang bilangan.
Bilangan sendiri itu adalah ide abstrak yang tidak didefinisikan. Setiap Bilangan mempunyai banyak lambang bilangan. Satu lambang bilangan menggambarkan satu bilangan. Setiap bilangan mempunyai banyak nama. Misal bilangan 125 mempunyai nama bilangan seratus dua puluh lima. terdiri dari lambang bilangan 1, 2, dan 5.
angka/digit terdiri dari 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9 lambang bilangan ini disebut angka hindu arab yang digunakan sampai sekarang
Sebelum angka hindu arab ditemukan, terdapat lambang bilangan mesir kuno yang disebut heroglip, lambang bilangan romawi, lambang bilangan babilon, lambang bilangan maya. ….. kalau mau tahu bentuk lambang bilangannya dan sejarahnya kapan-kapan aja ya…. soalnya lagi sibuk ngerjain tugas. ok. tanks…… bersambung
→ Leave a CommentCategories: SD · angka · bilangan · matematika
Tagged: angka, bilangan, lambang bilangan, matematika
Matematika Bermakna
February 23, 2008 · 1 Comment
Dalam proses belajar mengajar, masih banyak pengajar matematika yang mengajarkan prosedur dengan tanpa menjelaskan mengapa prosedur tersebut digunakan. Sehingga siswa beranggapan bahwa dalam menyelesaikan masalah, cukup memilih prosedur penyelesaian yang sesuai dengan masalah yang diberikan. Dalam hal ini fokus pembelajaran tidak pada mengapa prosedur tertentu itu yang digunakan untuk menyelesaikan, tetapi prosedur mana yang dipilih untuk menyelesaikan masalah dan pada bagaimana menyelesaikan dengan prosedur tersebut. Bahkan seringkali terjadi, dalam menanamkan konsep hanya menekankan bahwa konsep-konsep itu merupakan aturan yang harus dihafal, tidak perlu tahu dari mana asal-usul rumus tersebut.
Sebagai contoh rumus Phitagoras adalah c2 = a2 + b2 (dengan c sebagai sisi miring dan a, b sisi siku-siku), rumus luas lingkaran adalah r2, rumus luas bola adalah 4r2, dan sebagainya, merupakan rumus yang ”pokoknya” harus dihafal, kalau ingin bisa mengerjakan soal. Orientasi pembelajaran hanya pada ”pokoknya” siswa bisa mengerjakan soal yang diberikan oleh guru, meskipun apa yang dikerjakan sebenarnya tidak bermakna. Keep reading →
→ 1 CommentCategories: belajar matematika · matematika bermakna · pembelajaran
Tagged: belajar matematika, matematika, matematika bermakna, pembelajaran
PRINSIP MENGAJAR MATEMATIKA
February 22, 2008 · 3 Comments
Mengajar matematika yang efektif memerlukan pemahaman pengetahuan siswa dan kebutuhan untuk belajar sehingga menarik serta mendukung mereka untuk belajar yang baik
Para siswa belajar matematika melalui pengalaman yang difasilitasi guru. sehingga, siswa memahami matematika, agar mereka mampu menggunakannya untuk memecahkan masalah, dan mereka menjadi percaya diri, matematika dibentuk oleh semua pengajar yang berada di sekolah. Peningkatan pendidikan matematika untuk semua siswa memerlukan pembelajaran matematika yang efektif di semua kelas.
Guru matematika yang baik adalah selalu berusaha dengan kompleks, dan tidak ada hal yang mudah untuk membantu semua siswa belajar atau membantu semua guru menjadi efektif. Meskipun demikian, banyak diketahui mengajar matematika yang efektif, perlu pengetahuan dalam memandu aktivitas dan pertimbangan profesional. Untuk bisa efektif, guru harus mengetahui dan memahami matematika ketika mereka sedang mengajar dan bisa memberi gambaran/ilustrasi pada pengetahuan dengan fleksibel saat mereka tugas mengajar. Mereka perlu memahami dan merasa terikat dengan para siswa mereka, ketika belajar matematika bersikap manusiawi serta memiliki kemahiran dalam memilih dan menggunakan berbagai keterampilan pendidikan dan strategi penilaian ( Komisi pengawas Nasional Mengajar dan masa depan America’s 1996). Sebagai tambahan, pembelajaran efektif memerlukan cerminan/keteladanan dan usaha berkesinambungan untuk mencari peningkatan. Para guru harus mempunyai sumber daya dan peluang besar dan sering untuk meningkatkan serta menyegarkan pengetahuan mereka. Keep reading →
→ 3 CommentsCategories: cara mengajar · mengajar matematika · pembeajaran efektif · pembelajaran · pendidikan · prinsip mengajar
Tagged: matematika, mengajar matematika, pembelajaran, pembelajaran matematika, prinsip mengajar
Apa bedanya Guru dengan Siswa?
February 19, 2008 · 3 Comments
Anak-anakku sayang rajinlah belajar, “kata seorang guru”, dengan lemah lembut. Ya bu/pak “jawab siswa”, dengan semangat. Guru menyuruh siswa belajar, tetapi apakah gurunya juga mau belajar?… Inilah kadangkala yang harus dicermati oleh semua guru. Karena simbolnya guru itu digugu lan ditiru. Maka hendaknyalah sadar bahwa mencari ilmu itu merupakan kewajiban setiap manusia. sesuai sabda Rasul “Tuntutlah Ilmu Walaupun Sampai ke negeri Cina”. tetapi ealah gurupun juga manusia, ketika akan diadakan pelatihan menulis artikel… wajahnya bak disambar petir menjadi merah padam dan rambut naik semua mengerikan …. hi..hi.. takut… Wah sekarang diganti ajalah siapa yang mau belajar wordpress silakan mendaftar? eh … ternyata juga ada yang tidak ikut, dengan alasan bermacam-macam… tetapi juga ada yang semangat ikut lho… oh ya jangan ge er dulu ternyata ada yang ikut sambel ngomel, pelatihan lagi… tapi gak ikut nanti dimarahi … hi lucu guru kok takut dimarahi…. he… he… Nah mumpung latihan bikin wordpress…, ayo semangat asyik kok pasti nanti ketagihan.. karena salah satunya dengan belajar wordpress pengetahuan kita pasti akan meningkat. Oke jangan pandai nyuruh siswa. sekarang buktikan bahwa guru juga belajar setiap saat
→ 3 CommentsCategories: belajar · guru · siswa · wordpress
Tagged: belajar, guru, siswa, wordpress
Keluarga, Bermain dan Belajar
February 18, 2008 · 1 Comment
Bermain sebagai kegiatan yang dilakukan berulang-ulang demi kesenangan (piaget. 1951). Menurut Hughes (1999) dalam Andang Ismail (2006) bermain merupakan hal yang berbeda dengan belajar dan bekerja. Suatu kegiatan yang disebut bermain harus ada lima unsur di dalamnya yaitu, (1) mempunyai tujuan, yaitu permainan itu sendiri untuk mendapat kepuasan, (2) memilih dengan bebas dan atas kehendak sendiri, tidak ada yang menyuruh maupun memaksa, (3) menyenangkan dan dapat menikmati, (4) mengkhayal untuk membayangkan daya imajinasi dan kreativitas, (5) melakukan secara aktif dan sadar. Keep reading →
→ 1 CommentCategories: belajar · bermain · keluarga · pendidikan
Tagged: belajar, bermain, bermain sambil belajar, keluarga, pendidikan keluarga
Bagaimanakah Belajar Matematika yang Baik?
February 8, 2008 · 3 Comments
Ketika anak asyik menghitung dan mencoba, orang tua menghardik, lambat sekali kau mengerjakannya! Gimana gurumu menerangkan, sambil mengomel menyalahkan gurunya. Masak perkalian aja gak hafal, bentak orang tua lagi! … Kondisi ini sering dialami peserta didik/siswa ketika ia belajar di rumah. karena anggapan orang tua belajar adalah mengerjakan soal. Dan gurupun ketika memberi soal terlalu monoton dengan soal yang membuat anak bosan. mungkin salah satu solusinya adalah membuat soal problem solving. Model soal ini menuntut kreativitas anak melakukan kegiatan matematika secara bermakna, selalu mencoba dengan mengembangkan proses berpikir, bernalar dan logika. Dari soal inilah diharapkan orang tua memahami bahwa anaknya tidak seperti yang dikira, karena sesungguhnya setiap anak adalah unik. Nah bagi orang tua, guru atau anak-anakku coba belajar menyelesaikan soal matematika berikut ini:
- Jika dua bilangan dikalikan hasilnya 759 dan selisih dua bilangan tersebut adalah 10. apakah dua bilangan tersebut?
- Tentukan paling sedikit berapa warna pada persegi yang dibutuhkan untuk ukuran 4 x 4 persegi, sehingga tidak ada warna yang sama pada sejajarnya/sampingnya tiap persegi tersebut?
- Jika Bilangan genap yang keempat adalah 8. Sket gambar untuk bilangan genap yang kesembilan dan tentukan bilangannya! kemudian tentukan bilangan genap yang ke 45 adalah ….
- Terdapat 300 kartu bilangan, dengan bilangan cacah dari 1 sampai 300, dengan masing-masing kartu hanya mempunyai satu bilangan. Berapa banyak kartu yang tidak boleh mempunyai cetakkan 4 pada kartu? Keep reading →
→ 3 CommentsCategories: Uncategorized
Tagged: mata pelajaran, matematika, problem solving, soal, soal matematika, soal problem solving