Nilai Pelajaran “Anak” Membuat Orang Tua Resah?

Ketika Ulangan Akhir Semester atau ujian nasional, akan berlangsung membuat orang tua menjadi kalang kabut, dengan mempersiapkan guru prifat atau mengumpulkan catatan, dan memaksa anaknya untuk menyelesaikan bentuk soal latihan sebanyak-banyaknya!!! Tapi ternyata si anak santai aja dan tidak menggubris nantinya akan mendapat nilai berapa, yang penting bermain….  Memang itulah dunia anak yaitu bermain, dan mencari jati diri untuk menatap masa depan. Dengan bermain anak akan menemukan inspirasi, imajinasinya akan berkembang. Tetapi orang tua tidak mau tahu itu, yang terpenting adalah anaknya mendapat nilai dengan sebaik-baiknya…. akhirnya anak dipaksa untuk menuruti kemauan orang tuanya, dengan siang – malam “belajar” menghafalkan soal, apa jadinya nanti anak tersebut??? ….. Sebenarnya kalau kita sebagai orang tua berpikir rasional, pasti akan membiarkan, dan mengarahkan anak berkembang sesuai dengan kemampuan, minat dan bakatnya, karena nilai yang baik belum tentu mencerminkan kemampuan anak dalam mengarungi bahtera hidupnya nanti, dan nilai hanyalah dokumen yang nantinya akan dimakan oleh rayap. Mengapa masyarakat Indonesia masih mengkultuskan nilai untuk menentukan lulus atau naiknya seorang siswa???? apakah generasi bangsa ini hanya bertitelkan nilai dan gelar, tanpa memiliki suatu skill dan akhlaq yang karimah. Untuk itu hendaknya jangan menghakimi searang anak yang mendapat nilai jelek, karena belum tentu anak tersebut tidak bisa, mungkin yang membuat soalnya yang tidak bisa mengukur seberapa tingkat pemahaman seorang anak. Mari kita didik anak kita dengan Keteladanan dan Modeling/contoh-contoh dalam berprilaku dan bertindak, dan hendaknyalah kita memahami karakter anak-anak kita.

2 responses to “Nilai Pelajaran “Anak” Membuat Orang Tua Resah?

  1. wah, menarih juga. saya mau donk!! dikasih tau caranya.

  2. setuju dengan konsep berman mungkin kita bisa sharing pengalaman karena pendidikan sekolah pada umumnya hanya mengembangkan kultur yang hanya mengejar nilai dan kelulusan, sementara membentuk kepribadian, karakter, tujuan anak belum terbayangkan karena masih menganggap kekuatan otak itu lebih penting dari pada kekuatan watak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s