Keluarga, Bermain dan Belajar

        Bermain sebagai kegiatan yang dilakukan berulang-ulang demi kesenangan (piaget. 1951). Menurut Hughes (1999) dalam Andang Ismail (2006) bermain merupakan hal yang berbeda dengan belajar dan bekerja. Suatu kegiatan yang disebut bermain harus ada lima unsur di dalamnya yaitu, (1) mempunyai tujuan, yaitu permainan itu sendiri untuk mendapat kepuasan, (2) memilih dengan bebas dan atas kehendak sendiri, tidak ada yang menyuruh maupun memaksa, (3) menyenangkan dan dapat menikmati, (4) mengkhayal untuk membayangkan daya imajinasi dan kreativitas, (5) melakukan secara aktif dan sadar.

        Permainan yang dilakukan bermacam-macam, alat tempat, teman bermain dan lingkungan hidupnya yang digunakan juga berbeda. Melalui permainan anak-anak dapat mengekspresikan diri untuk memperoleh kompensasi atas hal-hal yang tidak mungkin dialaminya. Dengan bermain dan menggunakan alat-alat permainan inilah anak-anak mengadaptasikan dirinya terhadap lingkungan. Melalui permainan pula anak-anak dapat berkenalan dan berinteraksi dengan orang-orang dan hal-hal yang mengelilinginya sehingga mereka menjadi akrab. Karena model atau gaya bermain anak yang selalu melibatkan orang atau alat permainan disekitarnya. Hal ini nampak dari hasil observasi bahwa anak kadangkala fokus pada alat permainan, dan dengan adanya kawan bermain ada kalanya mereka saling adu argumentasi, saling ejek, bila terjadi penyelewengan peraturan permainan yang telah disepakati.

        Permainan merupakan kesibukkan yang ditentukan oleh sendiri, tidak ada unsur paksaan, desakan atau perintah, dan tidak mempunyai tujuan tertentu. Untuk itulah diperlukan pendampingan dan arahan pada anak ketika malakukan kegiatan bermain mengarah pada permainan edukatif, dan bernilai pedagogis dan religiuos. Untuk itu diperlukan peran keluarga dalam meletakkan pondasi dasar pendidikan pada anak. Karena keluarga merupakan tempat pendidikan yang pertama dan utama bagi anak.

Pendidikan dalam Keluarga

Keluarga mempunyai tugas fundamental dalam mempersiapkan anak di masa depan. Dasar-dasar perilaku, sikap hidup, dan berbagai kebiasaan ditanamkan kepada anak sejak dalam lingkungan keluarga. Semua dasar yang menjadi landasan bagi pengembangan pribadinya itu tidak mudah berubah. Oleh sebab itu, penting sekali diciptakan lingkungan keluarga yang baik, dalam arti menguntungkan bagi kemajuan dan perkembangan pribadi anak serta mendukung terciptanya tujuan pendidikan yang dicita-citakan. (Soekanto, S. 1992)

        Lingkungan keluarga batih merupakan lingkungan pendidikan terdekat untuk itu hendaknya memberikan suasana emosional yang baik bagi anak-naknya, seperti perasaan senang, aman, sayang dan dilindungi, mengetahui dasar-dasar kependidikan, terutama berkenaan dengan kewajiban dan tanggungjawab orang tua terhadap pendidikan anak serta tujuan dan isi pendidikan yang diberikan. Bekerja sama dengan lembaga pendidikan yaitu sekolah, lembaga agama, lembaga kursus, kegiatan kepramukaan dan sebagainya. Untuk itu diperlukan hubungan orang tua dengan anak dalam kegiatan mendidik dan peran orang tua dalam pendidikan anak.

Hubungan Orang Tua dengan Pendidikan Anak

        Pada hakikatnya anak dilahirkan dengan membawa potensi dasar (fitrah), maka kewajiban orang tua, ialah membimbing dan membina fitrah tersebut pada arah yang dapat menguntungkan bagi perkembangan, kecakapan dan motorik anak sehingga menjadi generasi yang kreatif dan mandiri. Orang tua juga harus dapat memenuhi kasih sayang serta menjaga dan mengembangkan potensi dan kreativitas anak. Usia 0;0;1 – 15;0;0 merupakan usia peka bagi anak, karena itu menjadi titik tolak paling strategis untuk mengukir kualitas seorang anak di masa depan.

        Melihat kondisi kemasyarakatan dan kebudayaan Indonesia dewasa ini dalam situasi transisi, dan sekaligus sedang menderita akibat kemrosotan moral baik di wilayah perkotaan dan pedesaaan, yang diakibatkan arus informasi yang tidak terkontrol dengan baik dalam media elektronik yang dipertontonkan dan dilihat oleh anak-anak. Misalnya film sadis, narkoba, “dugem”, dan sebagainya yang sangat mudah ditiru anak. Dari permasalahan tersebut mendorong orang tua baik yang keduanya bekerja atau bapaknya saja yang bekerja dan ibunya di rumah mempercayakan pendidikan pada sekolah dan lembaga agama (TPQ, pesantren, dll).

        Hal ini terlihat dari observasi yang dilakukan di 4 wilayah di Jawa Timur baik yang ada di daerah perkotaan maupun pedesaan, orang tua berusaha untuk memenuhi pendidikan anak dengan sebaik-baiknya dengan mempercayakan pada lembaga pendidikan. Hal ini menunjukkan bahwa orang tua sangat mempercayakan pendidikan anak pada lembaga pendidikan dan lembaga agama. Biasanya lembaga agama mendidik individu sejak anak berusia 0;0;1 – 15;0;0 selama beberapa jam tiap hari, sedangkan lembaga sekolah mendidik individu anak berusia 0;0;6 – 15;0;0 selama + 5 jam tiap hari terkait dengan misi pendidikan sekolah yaitu pendidikan socio-sivics dan intelektual, sedangkan lembaga agama lebih banyak mengurus pendidikan kepribadian. Lembaga keluarga bertanggungjawab atas kepribadian, socio-sivics dan intelektual dengan segala keterbatasan.

Peranan Orang Tua

        Anak-anak yang dibesarkan dalam rumah tangga yang lebih banyak berbahagia lebih banyak tumbuh bahagia dan sehat secara psikologis. Tetapi, anak-anak yang dari keluarga “selaput kosong” tidak demikian, meskipun tidak terjadi. (William J. Goode. 1985). Untuk itu peranan orang tua sangat dominan dalam menentukan keberhasilan anak. Dari hasil pengamatan penulis pada anak-anak ketika bermain diperlukan suatu arahan pada setiap permainan untuk menghindari jenis permainan yang dapat membahayakan anak dan menghindari perilaku negatif anak. Dukungan dari kedua orang tua sangat diperlukan karena orang tua dituntut untuk waspada agar tidak terjerumus pada perilaku yang bertentangan pada kaidah-kaidah kreatif. Misalnya memberi contoh anak berkata kotor, memutar film sadis, dan sebagainya. Karena akibatnya anak-anak dapat mencontoh prilaku yang diperbuat oleh orang tuanya. Dari pantauan penulis peran orang tua terhadap perkembangan anak dipengaruhi oleh usia, pekerjaan dan tingkat pendidikan orang tua.

        Untuk orang tua yang berusia muda lebih bersifat demokratis dalam memberikan kebebasan pada anak ketika bermain dibanding orang tua yang sudah berumur, karena orang tua yang sudah berumur biasanya selalu mengekang anak dengan adat istiadat “kesopanan”. Untuk kedua orang tua yang sama-sama bekerja cenderung memberikan fasilitas dan memanjakan anak serta menyerahkan pendidikan anak pada lembaga pendidikan misal sekolah, pesantran, TPQ, dll. Untuk orang tua yang ibunya tidak bekerja lebih selektif dalam memantau anak ketika bermain, tetapi ibu kecenderungan mengisi waktu dengan melihat acara televisi, hal ini mendorong anak juga ikut melihat apa yang dilihat ibunya. Padahal usia 0 – 6 tahun merupakan usia yang paling peka bagi anak. Karena itu, ia menjadi titik tolak paling strategis untuk mengukir kualitas seorang anak di masa depan. Anak kaya akan daya khayal, pikir, rasa ingin tahu, dan kreativitas tinggi. Menurut data penelitian Dr. Keith Osborn (Ismail, A. 2006) puncak perkembangan kecerdasan anak sesungguhnya terjadi sejak anak baru lahir sampai usia 5 tahun.

        Dari data pengamatan di atas masih ada kecenderungan peran orang tua yang belum berkualitas, dalam mengembangkan kreativitas anak. Mengingat kreativitas sangat dibutuhkan manusia agar menjadi pribadi yang memiliki kemampuan kecerdasan yang tinggi, pengendalian emosi yang baik, serta kuat mental spiritualnya. Untuk itu hendaknya orang tua dapat melakukan peranan dalam mengembangkan kreativiatas anak dalam permainan dengan melakukan hal-hal berikut; (1) menunjang dan mendorong kegiatan yang diminati anak, (2) menikmati keberadaan bersama anak, (3) menjalin hubungan kerjasama yang baik dengan anak, (4) mendorong kemandirian anak dalam bekerja, (5) memberikan pujian yang sungguh-sungguh pada hasil karya anak, (6) memberi kesempatan pada anak untuk berpikir, merenung dan berkhayal, (7) merangsang daya pikir anak dengan cara mengajak berdiskusi tentang hal yang mampu dipikirkan anak, (8) memberikan kesempatan kepada anak untuk dapat menentukan atau mengambil keputusan, (9) membantu anak yang menemukan kesulitan dengan memberikan penjelasan yang diterima akal anak, (10) memberikan fasilitas yang cukup bagi anak untuk bereksperimen dan bereksplorasi, (11) memberi contoh membuat karya kreatif.

One response to “Keluarga, Bermain dan Belajar

  1. Oke punya artikelnya, belajar dengan bermain yang menyenangkan dan tidak dianggap sebagai suatu pembelajaran yang dianggap main-main itu yang perlu dibuktikan pada wali santri yang bimbang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s