Kesadaran ataukah karakter dalam pendidikan

Kelangsungan hidup manusia selama ini sebagian besar bergantung kepada kualitas multi kecerdasan. Sebagai salah satu modal dasar untuk memecahkan aneka ragam persoalan. Padahal krisis yang tengah dialami bangsa ini merambah hampir di seluruh sektor kehidupan dan pada akhirnya menggambarkan kemerosotan spiritualitas dan moralitas luhur bangsa. Pembentukan mental dan karakter yang instan tanpa adanya kesadaran untuk menjalankan pada diri anak, itu tidak mungkin terwujud. Oleh karena itu, pembentukan karakter juga harus diimbangi dengan kesadaran untuk merealisasikannya.

Kenyataannya, siswa dituntut lulus tanpa mengedepankan kompetensi yang dimilikinya. Akibatnya berbagai cara dilakukan siswa dan guru untuk mengejar kelulusan, walaupun bertentangan dengan karakter dan kesadarannya. Hal ini merupakan salah satu penghalang dalam pembentukkan karakter yang telah dibangun selama ini. Akibatnya proses pembentukan karakter seakan terbenam dalam kerendahan budi pekerti. Untuk mengatasi persoalan ini maka kedalaman kesadaran menjalankan akhlak keagamaan dan budi pekerti merupakan kekuatan dan keungguan yang harus menjadi ruh visi dan misi pendidikan nasional.

Strategi pendidikan yang diterapkan di Indonesia selalu berubah sejalan dengan perubahan sosial, budaya, politik, ekonomi, dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Esensi tujuan yang hendak dicapai tetap sama, yaitu mengembangkan potensi sumber daya manusia agar menjadi individu produktif dan memiliki keunggulan kompetitif berlandaskan pada nilai-nilai akhlak, moral, dan etika bangsa. Pertanyaannya apakah Pendidikan karakter yang diamanatkan Depdiknas benar-benar dijalankan oleh berbagai elemen bangsa ini? Hal ini menjadi pertanyaan besar bagi masyarakat kita, karena paradigma pendidikan yang berkembang dewasa ini hanya berorientasi pada hasil tanpa melihat proses dan makna pendidikan.

Untuk itulah pembentukkan karakter ini hendaknya didahului dengan pembentukan kesadaran diri untuk selalu berbuat lebih baik. Kesadaran diri hendaknya dilaksanakan oleh berbagai komponen bangsa sebagai pelaku pendidikan di Republik tercinta ini, kesadaran akan pentingnya nilai-nilai kejujuran, manfaat belajar, hikmah dari suatu kegagalan, dan juga kesadaran akan urgennya akhlaq mulia. Manusia yang sadar akan mengetahui benar dan salah, halal dan haram, buruk dan jelek, gagal dan berhasil.

Untuk mewujudkan kesadaran diri tersebut, komponen pertama yang harus berkesadaran adalah komponen keluarga, selanjutnya amanat besar itu dijalankan oleh komponen pendidik yang didukung secara sinergis oleh lingkungan dan masyarakat. Sebagaimana ajaran Ki Hajar Dewantara, yaitu “Tut wuri handayani, Ing Madya Mangun karsa, Ing Ngarsa Sung Tuladha” artinya dari belakang seorang guru harus memberikan dorongan atau arahan, di tengah atau diantara murid seorang guru harus menciptakan prakarsa atau ide, dan di depan seorang pendidik harus memberikan teladan atau contoh.

Salah satu keunggulan metode suri tauladan/modelling adalah untuk menumbuhkan benih-benih kesadaran yang notabene sudah dimiliki oleh setiap insan pada fitrahnya. Karena pada dasarnya setiap manusia dilahirkan dengan membawa fitrah insaniyah-nya masing-masing. Yaitu potensi dan bakat yang dianugerahkan langsung oleh Tuhan sejak sebelum dia lahir ketika masih dalam kandungan ibu.
Oleh sebab itu, ketika seorang anak manusia dilahirkan, maka tugas orang tua, guru, dan masyarakat di sekitarnya adalah bagaimana caranya agar fitrah insaniyah tersebut aktif kembali dan tereksplor dengan baik dan optimal. Sebaliknya di dunia realita, masing-masing elemen masyarakat masih kurang mempunyai rasa kesadaran dalam menyukseskan pembentukan karakter pada diri anak. Baik itu dalam lingkup sekolah, keluarga atau lingkunga masyarakat.

Salah satu contoh konkret yang bisa kita amati adalah sebut saja pemimpin yang koruptor. Kita semua mengetahui dengan benar bahwa mereka adalah orang yang berpendidikan tinggi, tentunya dengan pembentukan karakter yang matang. Tapi pada kenyataannya, perilaku mereka tidak ubahnya seperti orang yang tidak berpendidikan. Hal itu jelas, karena pendidikan karakter yang mereka terima, tidak terinternalisasi ke dalam jiwa mereka. Akibatnya tidak timbul yang namanya kesadaran diri. Pada akhirnya apa yaang telah mereka dapatkan dan yang mereka ketahui tidak sesuai dengan apa yang sudah mereka lakukan, yaitu menyelewengkan uang negara, menyengsarakan hati rakyatnya.

Untuk itulah diperlukan suatu pemahaman yang utuh dan contoh yang konkret dalam mengartikan suatu karakter, mengapa demikian?. Karena sesungguhnya suatu karakter dapat dimaknai sebagai sopan santun, budi bahasa, dan kebudayaan suatu bangsa. Baik itu kesadaran dalam bentuk lahir maupun batin yang telah mencapai proses perkembangan yang lebih tinggi. Hal itu menunjukkan bahwa suatu karakter tersebut sudah melekat dan menjadi suatu kebutuhan setiap individu, seperti kebutuhan untuk beriman, bertakwa, berilmu, dan beramal. Intinya, sejatinya suatu proses pendidikan memerlukan pengembangan pembelajaran “Kesadaran Berkarakter Ilahiyyah”.

Implementasi dari metode “Kesadaran Berkarakter Ilahiyyah” ini harus terwujud dan terintegrasi dalam setiap mata pelajaran. Kolaborasi antara materi pembelajaran dengan keimanan, ketakwaan dan landasan akhlaqul karimah diiringi dengan perbuatan atau amaliah sesuai tuntunan ajaran agama dan budaya bangsa. Misalnya pada pelajaran matematika, melalui kesadaran kecakapan pemecahan masalah dan kejujuran dapat dikembangkan. Demikian pula untuk mata pelajaran agama, sains, dan sosial dapat mengembangkan empati sosial, sikap toleransi, kesadaran diri sebagai makhluk Tuhan dan makhluk sosial dan sebagainya. Misalnya tentang kenampakkan alam: siswa meyakini berbagai alam merupakan ciptaan Tuhan, yang harus dilestarikan, dan para siswa tidak hanya mengetahui cara melestarikan tetapi secara amaliah melakukan perbuatan membersihkan sungai, dan menanam tumbuhan. Harapannya siswa akan tumbuh kesadaran akan pentingnya alam bagi kehidupan dan menjalankan amaliahnya untuk selalu menanam dan meletakkan sampah pada tempatnya.

Sekali lagi, bahwa kesadaran melaksanakan karakter tersebut diperlukan suatu pembiasaan dan contoh dari semua kalangan. Tidak lagi menjadi tugas pokok orang tua dan guru saja, tetapi menjadi tugas bersama seluruh elemen masyarakat yang ada dalam suatu bangsa. Yaitu suatu masyarakat bangsa yang terdidik dan sadar bahwa antara manusia dengan manusia, antara manusia dengan alam saling membutuhkan, bukan merasa hanya dibutuhkan saja. Misalnya guru butuh anak didiknya untuk berakhlak mulia, sebaliknya, murid juga membutuhkan juga guru yang berakhlak mulia. Pemimpin butuh masyarakatnya sejahtera, sebaliknya, masyarakat butuh pemimpin yang adil dan tidak serakah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s